Santus

An extra ordinary girl
site daily hits
Boise Dating Services


Ask me something   Submit

Sunday, 15 January 2012

Hari yang sangat jenuh, entah mengapa akhir-akhir ini beberapa pikiran di luar tanggung jawab si pemikir bermunculan. Aku adalah manusia biasa, dan itulah yang saat ini ingin ku utarakan kepada beberapa orang di luar sana. Bahwa aku hanya memiliki sabuah otak dan sebuah hati juga sebuah raga dilengkapi sebuah jiwa.

Dunia itu tidak terkira luasannya, beberapa semesta dapat saling bersinggungan di luar pengetahuan manusia, contohnya saja: seorang manusia biasa paling nggak punya 2 semesta besar, keluarga dan teman. Dan ada pepatah yang mengatakan, setengah dari masalah kita didatangkan orang tua, dan setengah lagi oleh anak. Mungkin agak random, tapi dimasa ini statement pertamalah yang mungkin bisa terjadi untuk semesta keluarga.

Diluar semua itu, hari ini tiba-tiba ada seonggok note dari sahabat. Dia tiba-tiba datang ketika manusia ini sedang bingung untuk memilih semangat apa untuk melanjutkan hari besok. Dia mengingatkan betapa orang ini tidak akan menyerah terhadap apapun yang ada di depan mata. Dia mengingatkan semangat lama yang akhir-akhir ini pudar karena beberapa fokus yang terpecah. Lalu dia mengingatkan sebuah buku tulis yang masih rapih tersimpan di lemari, buku yang berisi tulisan “cakar ayam”nya yang sukses mengundang air mata. Tiba-tiba muncul flashback 7 tahun yang lalu, seorang gadis berumur 15 tahun yang sedang mengamati langit-langit pesawat. Di tangannya tergenggam sebuah buku tulis, buku tulis yang sama. Beberapa jam yang lalu gadis itu baru saja mengucapkan perpisahan pada si kota panas seribu mimpi. Namun, tidak setetespun air mata berhasil keluar dari mata sang gadis ketika semua hal yang ditinggalkannya menangisi kepergiannya. Gadis itu masih bingung, kenapa dia harus naik pesawat Mandala pada hari itu, dan dia masih memegang buku yang diterimanya beberapa jam lalu. Dihawa kebosanan gadis itu membaca buku pink kotak-kotak tersebut, beberapa menit kemudian, tidak setetes air mata berhasil dikeluarkannya, namun beribu tetes.

Terima kasih SAL, kamu adalah penyair terhebat yang pernah aku temukan, inget dulu pas baca ber buku-buku cerpen kamu itu, inget dulu pas kamu ngajarin cara mengarang yang baik dan benar, inget dulu sama si kakak rohis yang baik itu HAHAHAHAHAHA, eksistensi manusia di bumi selalu ditopang oleh orang disekelilingnya, dan kamu salah satu orang yang menjadi tumpuan dalam kehidupanku yang statis tak tentu ini.

-due to replay a note from my besties-

Sabrina A. Lasama

Notes

  1. santus posted this